Berikut berita internasional terkini dari matamatapolitik.com. Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyampaikan rasa terima kasih melalui akun twitternya pada pimpinan Korea Utara Kim Jong Un. Menurut Trump, Kim Jong Un telah melakukan itikad dan tindakan yang baik dengan mengembalikan sisa-sisa jenazah tentara Amerika Serikat yang tewas di Korea Utara saat Perang Korea tahun 1950-1953. Trump mengomentari tindakan baik dari Kim Jong Un dan berkata akan menemui pimpinan Korea Utara itu lagi dalam waktu dekat.

Minggu lalu, Korea Utara mengembalikan sisa jenazah lima puluh lima orang tentara Amerika Serikat. Sesuai dengan hasil perundingan kedua negara di Singapore Summit pada bulan Juni lalu. Ini adalah pengembalian jenazah pertama setelah tahun 2005. Dilansir dari Time oleh matamatapolitik.com, menurut keterangan resmi pemerintah AS, Korea Utara hanya mengembalikan lima puluh lima peti berisi sisa jenazah. Tidak ada keterangan resmi lainnya yang bisa didapat. Juga tidak ada informasi yang bisa membantu ahli forensik untuk mengidentifikasi identitas jenazah-jenazah tersebut. Seluruh peti jenazah diangkut menggunakan pesawat militer Amerika Serikat dari sebuah kota di semenanjung Korea Utara. Lalu dibawa ke Pangkalan Udara Osan di luar Seoul, sebelum akhirnya diberangkatkan ke Amerika Serikat.

Pengembalian sisa jenazah prajurit AS ini bertepatan dengan perayaan 65 tahun Perang Korea. Saat itu, hampir 7.700 orang tentara perdamaian dari AS hilang dan tidak dapat ditemukan kembali hingga kini. Mengacu pada data dari Departemen Pertahanan AS, dari jumlah tersebut, 5.300 orang di antaranya dipercaya hilang di Korea Utara. Juru bicara Trump menyatakan bahwa pengembalian lima puluh lima sisa jenazah tersebut adalah salah satu keberhasilan dari pertemuan di Singapura dua bulan lalu, dimana kedua negara menyepakati empat poin penting. Namun hasil kesepakatan lainnya yang tak kalah genting, seperti “kesepakatan denuklirisasi semenanjung Korea” tetap belum terlaksana.

Pernyataan terima kasih dari Donald Trump pada Kim Jong Un terdengar sangat bertolak belakang dengan pernyataannya sebelum ini, dimana presiden Trump menyebut Kim Jong Un sebagai “pria roket kecil” sehubungan dengan tes rudal balistik yang dilakukan Pyongyang baru-baru ini. Amerika Serikat memang dikenal bersikeras menentang setiap percobaan nuklir dan rudal balistik yang dilakukan oleh Korea Utara dan beberara negara lainnya. Menurut pemerintah Amerika Serikat, hal ini dilakukan untuk menjaga perdamaian dunia dan mencegah penyalahgunaan senjata nuklir.